Pementasan ‘TUK (Mata Air)’. Sutradara: Gunawan Maryanto

Naskah Tuk (Mata Air) adalah karya sutradara dan penulis dari Teater Gapit Surakarta, Bambang Widoyo Sp yang dipentaskan sebagai babak akhir dari Program Belajar Aktor Studio. Untuk pementasan ini, naskah Tuk kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Gunawan Maryanto dan Andi SW. Naskah ini bercerita tentang warga yang tinggal di tanah magersaren, yang terancam kehilangan tempat tinggal mereka. Hal yang masih juga relevan untuk dibicarakan sampai sekarang.

Pementasan ini dilakukan selama dua hari (11-12 Januari 2008) di Amphitheater, Taman Budaya Yogyakarta.

Sinopsis
Tanah Magersaren hendak dijual, maka para warga yang tinggal menumpang di atas tanah Denmas Darso tersebut mau tidak mau harus pergi. Mbah Kawit, sesepuh warga, bersikeras tak mau pergi. Ia memilih mati di atas tanah yang telah menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Den Darso telah menitipkan tanah tinggalan itu kepadanya dan warga yang lain agar digunakan sebaik-baiknya bagi kepentingan bersama. Tapi kenyataan berbicara lain. Sepeninggal Den Darso, istrinya memutuskan menjual tanah yang memang telah lama menjadi incaran pengusaha-pengusaha besar dari Jakarta, karena letaknya yang sangat strategis. Mbah Kawit dan para warga Magersaren, dengan kepentingannya sendiri-sendiri, mencoba bertahan hingga saat-saat terakhir.

Pemain:
Desi Puspitasari (Mbah Kawit)
Doni Agung Setiawan (Lek Bismo)
Eny Lestari (Menik)
Gideon Hendro Buono (Lek Bismo)
Hario Priojati (Marto Krusuk)
Muhammad Bahar Sukoco (Bibit)
Nur Laeliyatul Masruroh (Mbokdhe Jemprit)
Ricky Setiawan (Romli)
Sita Rahmi BS (Mbok Jiah)
Tita Dian Wulansari (Sum)
Wildan ‘Tangginas’ Kurnia (Soleman Lempit)

Kerabat kerja:
Gunawan Maryanto (Sutradara, penerjemahan)
Pardiman Djojonegoro (Penata musik)
Maryono (Pemusik)
Kiswan Dwi Nawaika (Pemusik)
Sandyo (Pemusik)
Eny Lestari (Sinden)
Vidyahana Sinaga (Penata kostum&make up)
M. Qomaruddin (Penata cahaya)
Nur Kholis “Brekele” (Pewujud set)