Sebagai sebuah laboratorium penciptaan teater, di samping mendasarkan diri pada inspirasi kreatif dan kegelisahan atas soal-soal di dalam lingkungan sosialnya, kerja-kerja Teater Garasi juga didekati dengan spirit intelektual dan lintas disiplin, berpijak pada riset dan studi atas tradisi-tradisi teater/seni pertunjukan yang telah ada, dan menempatkan dan menjajarkannya dengan model/sensibilitas dan imaji-imaji kontemporer.
Actor Studio
Aktor Studio merupakan program belajar keaktoran. Kurikulum aktor studio membuka kesempatan bagi pesertanya untuk mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh dan integral tentang teater dan keaktoran melalui serangkaian lokakarya, kelas teori, dan sistem latihan yang intensif bersama fasilitator dan pengajar yang kompeten.
Lokakarya
Dalam lokakarya aktor bertemu dan mempelajari suatu bentuk/ metode/ ketrampilan/ teknik tertentu dalam teater/ seni pertunjukan dipandu oleh sumber yang kompeten.
Kelas Teori
Dalam kelas teori aktor mengolah kompetensi intelektualnya melalui sesi-sesi diskusi dan tugas mengenai suatu subyek/ teori untuk mengembangkan perspektif teoritis dan kesadaran kritisnya terhadap lingkungannya yang lebih luas.
Riset Aksi
Dalam riset aksi aktor mengamati dan mempelajari subyek tertentu melalui keterlibatan aktif dalam pengalaman live-in. (Aktivitas ini pilihan)
Latihan Dasar
Dalam latihan dasar aktor mengolah kepekaan tubuh, suara dan imajinasinya melalui sistem latihan dasar yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
Karya Pertunjukan
Setelah menempuh hidup dalam proses studio, karya teater semestinya ditampilkan di hadapan publik sebagai bagian dari sosialisasi dan dialektikanya. Pada titik ini karya Teater Garasi sampai pada signifikansinya yang utama: komunikasinya dengan publik/ penonton.
Proyek Solo
Setiap anggota Teater Garasi bertanggung jawab membangun prosesnya sendiri sebagai seniman yang mandiri; satu cara untuk menerjemahkan proses individual tersebut adalah dengan mengembangkan proyek solo. Proyek-proyek solo tersebut adalah:
- Pementasan 'Bunga Lantana', sebuah solo oleh Verry Handayani
- Pementasan 'Lelaki Itu Mengaku Sebagai Jamal', sebuah solo oleh Jamaluddin Latif
- Pementasan 'Monolog Sungai', sebuah solo oleh Erythrina Baskorowati
- Pementasan 'Kisah Erendira dan Angin Petakanya', sebuah solo oleh Sri Qadariatin
- Pementasan 'Shakuntala', sebuah solo oleh Naomi Srikandi
- Pementasan 'Ophelia dan Rahasia Kolam Kematian', sebuah solo oleh Citra Pratiwi
- Workshop Story Telling, sebuah solo oleh Hindra Setyarini
- Pementasan 'The Zoo Story', sebuah solo oleh Theodorus Christanto
Daftar Karya Pertunjukan
- Mnem[a]syne Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater dan Kunauka Theatre Company, sebuah kelompok teater yang berbasis di Tokyo, melakukan kerja kolaborasi berjudul "Mnemosyne" di Tokyo pada bulan April hingga Juni 2006. Proyek Mnemosyne adalah perihal 'memori' dan 'kontak/hubungan-hubungan'. Presentasi/pertunjukan untuk publik diadakan pada tanggal 11 hingga 18 Juni 2006 di Suzunari Theatre, Shimo Kitazawa, Tokyo. (lebih jauh)
- Proyek Waktu Batu (lebih jauh)
- Waktu Batu #3. Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu ,In Transit Festival, Berlin, Juni 2004.
- Waktu Batu #3. Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu, September 2004. Dipentaskan di Yogyakarta, Jakarta (Art Summit Indonesia IV-Festival International Seni Pertunjukan dan Seni Rupa), Singapura (Insomnia 48), dan Jepara.
- Waktu Batu#2. Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah, Februari-Maret 2003, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Lampung, dan STSI-Padangpanjang.
- Waktu Batu#1. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Juli 2002. Pementasan pertama ini berlangsung di Yogyakarta
- Fireflies (di tepian sungai nggak ada kunang-kunang), karya Suzue Toshiro, Yogyakarta, Juni 2004.
- Percakapan di Ruang Kosong, Yogyakarta-Jakarta, September 2001
- Reportoar Hujan, Karya dan sutradara Gunawan Maryanto, Maret - April 2001. Dipentaskan 14 kali di 13 tempat di Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan Bandung.
- Les Paravents (Sketsa-sketsa Negeri Terbakar), karya Jean Genet, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, 2000. Dipentaskan di Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Surabaya
- Sementara Menunggu Godot, Karya Samuel Beckett, sutradara Retno Ratih Damayanti, Yogyakarta 2 - 4 Desember 1999
- Sri, Karya dan sutradara Gunawan Maryanto adaptasi atas Yerma karya Federico Garcia Lorca, Yogyakarta - Surakarta Juni 1999.
- Endgame, karya Samuel Beckett, sutradara Landung Simatupang, 1998-1999. Dipentaskan 13 kali di Yogya, Jakarta, Bandung dan Surabaya.
- Tiga Kisah Cinta (Pagi Bening, Pernikahan Perak, Tempat Istirahat), sutradara Yudi Ahmad Tajudin, TUK - Japan Foundation - Expose Cafe Jakarta Oktober 1998.
- Empat Penggal Kisah Cinta (Pagi Bening, Pernikahan Perak, Tempat Istirahat, Sahabat Terbaik), sutradara Yudi Ahmad Tajudin, LIP Yogyakarta 11-13 Desember 1997.
- Twins, Nomor pantomim karya Gunawan Maryanto dan Jamaludin Latief, Bentara Budaya Yogyakarta, 7 November 1997.
- Caraousel, Karya eksplorasi bersama, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Yogyakarta, Juli 1997.
- Kapai-kapai, Karya Arifin C Noer, sutradara Yudi Ahmad Tajudin dan Zeni Setyo Nugroho, Yogyakarta - Surakarta, Maret 1997.
- Panji Koming, Karya Yudi Ahmad Tajudin dan Dirmawan Hatta. Interpretasi atas komik strip Panji Koming karya Dwi Koendoro, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Purna Budaya Yogyakarta 23 Mei 1996.
- Atau Siapa Saja, Adaptasi Yudi Ahmad Tajudin atas Caligula karya Albert Camus, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Pentas Keliling Jawa, Oktober 1995.
- Wah, Karya Putu Wijaya, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Purna Budaya Yogyakarta, 2 April 1995.



