Repertoar Hujan, karya dan sutradara Gunawan Maryanto, Maret - April 2001. Berpijak dari dua buah frase tentang hujan karya Gunawan Maryanto. Tubuh dijadikan media ucap utama dalam pertunjukan ini. Ditata sebagai sebuah teater keliling dan dipentaskan 14 kali di 13 tempat di Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan Bandung.
Repertoar Hujan pertama dikembangkan pada tahun 2001 dari dua frase dalam puisi Gunawan Maryanto yang tak selesai; Seorang lelaki melintas di sela hujan dan Seorang perempuan menyiram pot bunganya setiap sore. Dari dua frase tersebut tim Repertoar Hujan menyusun peristiwa, jika perlu menyusun cerita. Hujan dan kenangan-kenangan yang dilahirkan oleh hujan menjadi dua tema besar yang melatarbelakangi penyusunan teks pertunjukan.Sebuah tema kecil dan personal yang barangkali jarang kita sentuh.
Reportoar Hujan yang berdurasi 45 menit ini menggunakan bahasa tubuh sebagai bahasa ucap yang utama. Tubuh dipaksa untuk menceritakan—lewat gerak dan diamnya—sesuatu yang tengah berlangsung di dalam dirinya tanpa bantuan kata sama sekali, hanya ada sedikit benda-benda dan bunyi yang akan semakin menajamkan tubuh sebagai bahasa ucap dalam pertunjukan ini. Aktor-aktor menggunakan gerak sehari-hari (daily behavior), gerak tari dan silat (extra daily behavior) dan gerak akrobatik (virtuoso) yang diolah dari gerak tari yang digunakan dalam Jatilan (tari rakyat Jawa Tengah), Topeng Indramayu (tari rakyat Jawa Barat), latihan dasar Bangau Putih dan beberapa prinsip gerak yang diolah dari Butoh (Jepang).



