Arsip

Theatre Work/Performance

Tahun 2006

Presentasi Solo Project

Sebagai bagian dari upaya untuk merespon isu otonomi aktor, aktor-aktor Teater Garasi masing-masing mempresentasikan sebuah monolog dengan judul yang mereka pilih masing-masing. Monolog ini ke depannya dicanangkan untuk dipresentasikan ke publik, sebagai salah satu upaya menempuh jalan otonomi keaktoran. Pada tahun ini, sebagai tahapan awal, monolog-monolog tersebut dipresentasikan di Studio Teater Garasi untuk kalangan terbatas.

Presentasi pertama ini menjadi penting bagi para aktor Teater Garasi setelah mereka memulai proses kreatif tersebut. Sebagai sebuah awalan, presentasi ini memberikan catatan-catatan penting antara lain perihal keterlibatan secara utuh, kekuatan data, penguasaan teknik, penguasaan tema, dan stamina proses.

Sebagaimana ditegaskan di awal, bahwa dalam Solo Project ini aktor menjadi inisiator untuk proses kreatif dirinya. Seluruh pihak/anggota tim yang terlibat di dalamnya digerakkan oleh pelaku solo project. Sementara itu, dia juga mempunyai tugas sebagai aktor yang dalam tataran tertentu membutuhkan intensitas yang tinggi untuk melakukan eksplorasi estetika dan pemanggungan. Pada presentasi pertama ini terlihat beberapa aktor kedodoran dalam mengelola dua fungsi yang melekat pada dirinya pada saat bersamaan. Bagi aktor-aktor muda Teater Garasi, catatan yang banyak muncul adalah perihal penguasaan tema dan teknik bermain. Melalui presentasi pertama ini mereka akan melanjutkan proses kreatifnya pada periode 2007 mendatang sampai pada tahap presentasi di depan publik.

 

Hari & Tanggal

Nama

Judul Monolog

Jumat, 17 Februari 2006

Dwi Wahyuni

Kesha

Jumat, 17 Februari 2006

Theodorus

Zoo

Jumat, 24 Februari 2006

Bahrun

Hati yang Menceracau

Sabtu, 4 Maret 2006

Hindra Setya

Cerita tentang Bapak

Sabtu, 4 Maret 2006

Gunawan Maryanto

Karakter yang Menderita

Senin, 6 Maret 2006

Citra Pratiwi

Ophelia

Sabtu, 11 Maret 2006

Erythrina

Monolog Sungai

Jumat, 17 Maret 2006

Jamaluddin

Jamal

Jumat, 17 Maret 2006

Verry Handayani

Lantana

Sabtu, 18 Maret 2006

Sri Qadaryatin

Elektra

Sabtu, 18 Maret 2006

Naomi Srikandi

Shakuntala

 

Pertunjukan Waktu Batu #3 di Tokyo, Jepang

Setelah pada periode sebelumnya (2005) Ku Nauka Theatre Company Tokyo melakukan pertunjukan di Yogyakarta melalui kerjasama dengan Teater Garasi dan Jogjakarta Art Festival, pada periode ini Teater Garasi mendapat undangan untuk mementaskan Waktu Batu #3; Deus Ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu dan melakukan kerja kolaborasi di Tokyo, Jepang. Dengan dukungan The Japan Foundation dan The Saison Foundation kami melaukan pementasan Waktu Batu #3 di Morishita Studio, Tokyo pada 21-23 Aprl 2006. Pertunjukan ini mendapat apresiasi yang bagus dari publik Tokyo, hal tersebut dapat diliuhat dari antusiasme publik pada sesi artist talk paska pertunjukan yang diadakan setiap selesai pertunjukan.

Dalam pementasan tersebut, Teater Garasi melibatkan 20 orang anggota tim kerja dimana setelah pertunjukan berakhir sebagaian anggota tim tetap tinggal di Tokyo untuk malanjutkan kerja kolaborasi dengan Ku Na’uka Theatre Compady dalam Mnem[a]syne Project.

 

Proyek Kolaborasi ‘Mnem[a]syne’

Mnem[a]syne adalah sebuah proyek kolaborasi antara Teater Garasi dan Kunauka Theatre Company, sebuah kelompok teater yang berbasis di Tokyo. Kerja kolaborasi yang berlangsung di Tokyo pada bulan April hingga Juni 2006, dimulai tepat setelah kami mementaskan Waktu Batu #3; Deus Ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu di Morishito, Tokyo. Proyek ini sempat akan berhenti di tengah jalan karena peristiwa Gempa Bumi yang melanda Yogya pada Mei 2006 dimana saat itu sebagian anggota tim mengkhawatirkan keadaan keluarga dan masyarakat yang terkena bencana. Berkat updating informasi dan dukungan seluruh anggota Teater Garasi yang berada di Yogya, tim ini berhasil menuntaskan proyek kolaborasi sampai pada presentasi/ pertunjukan untuk publik.

Tema proyek Mnem[a]syne adalah perihal 'memori' dan 'kontak/hubungan-hubungan'. Dalam kerja kolaborasi ini mengusung sejumlah seniman; 12 Aktor, 1 sutradara, 1 penata musik, 1 penata artistic, 1 penulis naskah & researcher. Presentasi/pertunjukan untuk publik diadakan pada tanggal 11 - 18 Juni 2006 di Suzunari Theatre, Shimo Kitazawa, Tokyo.

 

Pertunjukan Opera ‘The King’s Witch’

Sebagai seorang sutradara, Yudi Ahmad Tajudin (direktur artistik Teater Garasi) bisa dibilang telah mempunyai pola yang cukup mapan dalam hal penyutradaraan melalui metode improvisasinya. Metode tersebut memang mensyaratkan para aktornya untuk bekerja keras melakukan eksplorasi pada setiap hal yang dimungkinkan. Dalam hal ini aktor bekerja bukan dalam kerangka ‘perintah’ sutaradara melainkan berdasarkan kesadaran untuk melakukan jelajah kreativitas. Maka jelas dibutuhkan suatu sikap yang terbuka dan kemauan belajar untuk menemukan hal-hal baru dalam proses kreatifnya. Hal yang cukup penting dalam pola kerja penyutradaraan yang dilakukan oleh Yudi adalah pemahaman dan kesadaran seluruh tim yang terlibat akan inisiatif dan keterlibatan dalam proses kreatif. Dengan modal tersebut, Teater Garasi dan Yudi Ahmad Tajudin bersedia menerima tawaran dari composer kontemporer Tony Prabowo untuk mengerjakan sebuah proyek pertunjukan musik opera berjudul ‘The King’s Witch’ dalam rentang waktu penggarapan yang cukup pendek, tiga bulan.

The King’s Witch bercerita tentang Calon Arang, seorang penyihir perempuan asal Jawa yang tinggal di Girah, Kediri, pada Abad 12. Ia memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik bernama Manjali, yang tidak kunjung menemukan pasangan hidup karena seluruh laki-laki takut terhadap ibunya.
Pertunjukan musik opera yang melibatkan Goenawan Mohamad sebagai librettist tersebut dipentaskan di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, 1 & 2 Desember, 2006. Tim kerja Teater Garasi terdiri atas Jompet dan Andi Senoaji (visual artist), Retno Ratih Damayanti (perancang kostum) dan Citra Pratiwi, Erythrina Baskorowati, Naomi Srikandi, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, Whani Darmawan (aktor) dan Clink Sugiarto (Technical Assistant). Di luar itu, pertunjukan ini manampilkan kelompok New Juliard Ensemble (New York) dengan konduktor Joel Sachs dan choirs dari kelompok Batavia Mandrigal, Jakarta pimpinan Avip Priatna (chorus master).

 

Proyek Kolaborasi ‘Dicông Bak’

Pada akhir 2005, menjelang satu tahun paska bencana Tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, seorang relasi Teater Garasi di Belanda menawarkan sebuah kerja kolaborasi yang berangkat dari peristiwa tersebut. Dengan penuh semangat, kami menerima tawaran tersebut mengingat Aceh sebagai salah satu bagian Indonesia merupakan daerah yang menuntut perhatian lebih setelah selama masa orde baru menjadi ‘bulan-bulanan’ negara dan militer. Pengalaman pertama Teater Garasi bersinggungan dengan Aceh ketika tahun 2000 kami mementaskan sebuah naskah perancis ‘Les Paravents’ yang diadaptasi dalam konteks masyarakat Aceh. Melalui kerjasama dengan mahasiswa dan beberapa seniman Aceh yang tinggal di Yogya pada waktu itu, kami menjadi paham akan hal yang dihadapi masyarakat Aceh selama lebih dari 30 tahun.
Melalui kerjasama dengan Theatre Embassy (Amsterdam), Komunitas Tikar Pandan (Aceh) dan Teater Garasi (Yogyakarta) proyek tersebut direncanakan berlangsung pada bulan April – Juli 2006. Akan tetapi, bencana Gempa Bumi pada Mei 2006 yang melanda Yogyakarta mengubah rencana tema kolaborasi tersebut yang semula tentang Tsunami menjadi tentang Bencana mengingat ada peristiwa yang sama dialami oleh masyarakat Yogya dan Aceh.
Tim kerja yang terdiri atas 8 (delapan) aktor: Erythrina Baskoro, Naomi Srikandi, Bahrul Ulum (Teater Garasi), Ashari, Fauzan Santa, Zikrayanti, Reza indira (Komunitas Tikar Pandan), Egbert Wits (Theatre Embassy); 1 (satu) sutradara: Gunawan Maryanto; 2 (dua) musisi: Anton Sabang, Niri (Aceh); 2 (dua) produksi: Reni Karnila Sari (Teater Garasi) dan Willeke Colenbrander (Theater Embassy). Setelah riset dan rehearsal selama 2 (dua) bulan untuk kerja kolaborasi tersebut. ‘Dicông Bak (Manusia di Atas Pohon)’ menjadi judul pementasan hasil kerja klaborasi ini. Pertunjukan tersebut dipentaskan di daerah-daerah, baik di Aceh maupun di Yogyakarta, yang dilanda bencana pada tanggal 13-15 Agustus 2006 (Aceh) dan tanggal 21-25 Agustus (Yogyakarta).

 

Tahun 2005

  • Waktu Batu #3. Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu. In Transit Festival, Berlin, Juni 2005.
  • Repertoar Hujan (Rain Repertoire) , Physical Theatre Festival, November 2005.

Tahun 2004

  • Fireflies
    Disutradarai oleh Retno Ratih Damayanti, pertunjukan ini adalah sebuah studi atas gaya/gagasan realisme bagi aktor-aktor pemula Teater Garasi. Untuk kepentingan proses studi realisme ini naskah karya Suzue Toshiro tersebut diterjemahkan dari versi terjemahan bahasa Inggris oleh Theodorus Christanto dan Citra Pratiwi. Sementara proses editing dan adaptasinya ke dalam konteks Indonesia dilakukan secara bersama oleh seluruh anggota tim kreatif yang terlibat.
  • Waktu Batu #3. Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu.
    September 2004. Versi #3 dari The Waktu Batu Project . Dipentaskan di Jogjakarta, Jakarta (Art Summit Indonesia IV-International Festival of Performing and Visual Arts), Singapore (Insomnia 48), dan Jepara.

Tahun 2003

  • Waktu Batu#2. Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah.
    Februari-Maret’03. Versi kedua dari Waktu Batu ini dipentaskan di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Lampung, dan STSI-Padangpanjang.

Tahun 2002

  • Waktu Batu#1. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu
    Juli 2002. Versi pertama dari Waktu Batu ini dipentaskan di Sasono Hinggil Dwi Abad, Yogyakarta.

Tahun 2001

  • Repertoar Hujan
    karya dan sutradara Gunawan Maryanto, Maret - April 2001. Berpijak dari dua buah frase tentang hujan karya Gunawan Maryanto. Tubuh dijadikan media ucap utama dalam pertunjukan ini. Ditata sebagai sebuah teater keliling dan dipentaskan 14 kali di 13 tempat di Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan Bandung.
    Repertoar Hujan pertama dikembangkan pada tahun 2001 dari dua frase dalam puisi Gunawan Maryanto yang tak selesai; Seorang lelaki melintas di sela hujan dan Seorang perempuan menyiram pot bunganya setiap sore .Dari dua frase tersebut tim Repertoar Hujan menyusun peristiwa, jika perlu menyusun cerita. Hujan dan kenangan-kenangan yang dilahirkan oleh hujan menjadi dua tema besar yang melatarbelakangi penyusunan teks pertunjukan. Sebuah tema kecil dan personal yang barangkali jarang kita sentuh. Reportoar Hujan yang berdurasi 45 menit ini menggunakan bahasa tubuh sebagai bahasa ucap yang utama. Tubuh dipaksa untuk menceritakan—lewat gerak dan diamnya—sesuatu yang tengah berlangsung di dalam dirinya tanpa bantuan kata sama sekali, hanya ada sedikit benda-benda dan bunyi yang akan semakin menajamkan tubuh sebagai bahasa ucap dalam pertunjukan ini. Aktor-aktor menggunakan gerak sehari-hari ( daily behavior ), gerak tari dan silat ( extra daily behavior ) dan gerak akrobatik ( virtuoso ) yang diolah dari gerak tari yang digunakan dalam Jatilan (tari rakyat Jawa Tengah), Topeng Indramayu (tari rakyat Jawa Barat), latihan dasar Bangau Putih dan beberapa prinsip gerak yang diolah dari Butoh (Jepang).

    Media review on Rain Repertoire:

    "Teater Garasi's 'Rain' is not dry for idea ... Repertoar Hujan (Rain Repertoire) is both very personal and universal. It does not pretend to deal with "the big issue" ... this is a deliberate strategy. But, in dealing with "small things" - being caught in the rain and watering flowers in the afternoon - the work remains open to multiple interpretations. "(Lauren Bain, Australian theater researcher. The Jakarta Post , April 16, 2001)
  • Percakapan di Ruang Kosong, Yogyakarta-Jakarta, September 2001.
    Pertunjukan ini merupakan pementasan dua karya yang berbeda: La Comedie karya Samuel Beckett disutradarai Retno Ratih Damayanti, dan "Tentang Seorang Lelaki yang demikian Mencintai Hujan" karya/sutradara Gunawan Maryanto, yang secara bentuk bisa dibilang bertolak belakang. "Komedi" mengandalkan kata sebagai bahasa ucapnya, sedang "Tentang Seorang lelaki yang Demikian Mencintai Hujan" adalah pertunjukan teater yang bermodal tubuh dalam menyampaikan dirinya. Yang menyatukan keduanya adalah ruang. Di Yogyakarta pementasan berlangsung di sebuah gudang pabrik yang tidak lagi terpakai, yang merepresentasikan kenangan dan hal-hal yang telah dibuang

Tahun 2000

  • Les Paravents (Sketsa-sketsa Negeri Terbakar) , karya Jean Genet, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, 2000.
    Naskah dengan perpaduan bahasa yang keras dan puitik karya Jean Genet yang berlatar penjajahan Perancis di Aljazair ini didekati dengan adaptasi pada konflik kekerasan militer Indonesia di Aceh. Melibatkan juga seniman-seniman muda dari Aceh yang tinggal di Yogyakarta. Dipentaskan 7 kali di Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Surabaya dengan produser Centre Culturel Francaise (CCF-Yogyakarta), CCF Jakarta, CCF Bandung dan CCCL Surabaya

Tahun 1999

  • Sementara Menunggu Godot, karya Samuel Beckett, sutradara Retno Ratih Damayanti, Yogyakarta 2 - 4 Desember 1999.
    Ini merupakan pementasan versi perempuan atas naskah yang seluruh tokohnya lelaki. "Sementara Menunggu Godot" yang selama ini menjadi milik para lelaki, ganti dimainkan oleh para perempuan (sutradara dan seluruh pemainnya perempuan).
  • Sri, karya dan sutradara Gunawan Maryanto adaptasi atas Yerma karya Federico Garcia Lorca, Yogyakarta - Surakarta Juni 1999.
    Naskah yang bercerita tentang persoalan yang dihadapi perempuan di tengah kekuasaan patriarkal yang berasal dari Spanyol ini diadaptasi ke dalam kultur Jawa dengan mengambil inspirasi bentuk seni pertunjukan tradisional semacam Angguk dan Srandul.

Tahun 1998

  • Endgame, karya Samuel Beckett, sutradara Landung Simatupang, 1998-1999. Lakon karya Samuel Beckett ini dipentaskan 13 kali di Yogya, Jakarta, Bandung dan Surabaya, atas kerjasama dengan CCF Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Melibatkan aktor dan sutradara kawakan Yogyakarta, Landung Rusyanto Simatupang. Sebuah dunia yang ganjil dipakai oleh Beckett untuk menampilkan tokoh-tokohnya. Hamm yang lumpuh, Clov yang tidak bisa duduk, Nagg dan Nell yang teronggok dalam tong. Sebuah perbincangan tentang kematian, kehidupan, kata-kata, sejarah, Tuhan dan hal-hal lainnya.
  • Tiga Kisah Cinta (Pagi Bening, Pernikahan Perak, Tempat Istirahat), sutradara Yudi Ahmad Tajudin, TUK - Japan Foundation - Expose Cafe Jakarta Oktober 1998.
    Tiga Kisah Cinta adalah kristalisasi dari proses sebelumnya, "Empat Penggal Kisah Cinta". Dipentaskan 5 kali di 3 tempat berbeda di Jakarta.

Tahun 1997

  • Empat Penggal Kisah Cinta (Pagi Bening, Pernikahan Perak, Tempat Istirahat, Sahabat Terbaik), sutradara Yudi Ahmad Tajudin, LIP Yogyakarta 11-13 Desember 1997
    4 nomor drama realis pendek bertema cinta dipentaskan secara beruntun dalam satu malam. Semuanya bercerita tentang cinta lewat cara pandang dan tingkat kedewasaan yang berbeda. Pertunjukan ini digarap dalam konsep 'realisme ruang kecil' ( small space realism ) untuk membangun intimitas relasi aktor dan penonton
  • Twins, nomor pantomim karya Gunawan Maryanto dan Jamaludin Latief, Bentara Budaya Yogyakarta, 7 November 1997
    Sebuah pertemuan selalu menjanjikan perpisahan, demikian yang coba dimunculkan dalam reportoar tanpa kata ini. Dua orang bayi yang dilahirkan kembar dampit sampai pada suatu titik memutuskan untuk berpisah, menyusuri pilihannya masing-masing.
  • Carousel , sebuah eksplorasi kolektif, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Yogyakarta, Juli 1997.
    Karya ini tidak berangkat dari naskah panggung, hanya sebuah tema: kekerasan. Dipentaskan di Festival Kesenian Yogyakarta XIIÂ dan dalam sebuah kampanye anti kekerasan yang diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia.
  • Kapai-kapai karya Arifin C Noer, sutradara Yudi Ahmad Tajudin dan Zeni Setyo Nugroho, Yogyakarta - Surakarta, Maret 1997.
    "Kapai-kapai" adalah sebuah puisi panjang tentang kemiskinan dan impian-impian manusia yang tak kunjung selesai.
    Kapai-kapai Arifin C Noer' play, directed by Yudi Ahmad Tajudin and Zeni Setyo Nugroho, Yogyakarta - Surakarta, March 1997.

Tahun 1996

  • Panji Koming, karya Yudi Ahmad Tajudin dan Dirmawan Hatta.
    Interpretasi atas komik strip Panji Koming karya Dwi Koendoro, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Purna Budaya Yogyakarta 23 Mei 1996. Sebuah transfigurasi teks dari komik ke dalam pertunjukan teater. Berkisah tentang intrik-intrik politik yang berlangsung di kerajaan Majapahit lewat pandangan dan tuturan Panji Koming dan Pailul, dua orang rakyat jelata.

Tahun 1995

  • ... Atau Siapa Saja, adaptasi Yudi Ahmad Tajudin atas Caligula karya Albert Camus, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Pentas Keliling Jawa, Oktober 1995.
    Sebuah teks dan pertunjukan dalam bentuk montase. Dimainkan di empat kota di pulau Jawa, yakni Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Malang.
  • Wah karya Putu Wijaya, sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Purna Budaya Yogyakarta, 2 April 1995.
    Berkisah tentang dunia maling dengan gaya satire khas Putu Wijaya. Dimainkan oleh 17 aktor Teater Garasi, menggunakan gaya teater komikal yang inspirasinya diambil dari teater rakyat di Jawa. Di luar dugaan pertunjukan perdana Teater Garasi ini mampu menyedot lebih dari 1000 penonton dalam satu malam.

Peristiwa

Lokakarya

  • Lokakarya Metode Suzuki dan Latihan Dasar Ku'nauka, September 2005
    Fasilitator: Aktor-aktor Ku'nauka Theatre Company.
    Organizer: Theatre Garasibekerjasama dengan Jogja Art Festival.
    Tempat: Kua Etnika Studio, Yogyakarta.
  • "Das szenische Auge ; Mata Panggung" Lokakarya Disain Panggung, September 2005
    Fasilitor: Bert Neumann dari Volkbühne Theatre Germany
    Organizer: Teater Garasi, Goethe Institute dan Yayasan Kelola
    Tempat: bekas gudang suku cadang sepeda motor di Nagan Kulon Yogyakarta
  • Lokakarya Keaktoran dan Penyutradaraan I & II, Teater Garasi, 2003.
    Fasilitator: Iman Soleh (aktor dari Bandung) dan Dindon (sutradara Teater Kubur, Jakarta).
    Lokakarya ini merupakan bagian dari Forum Membaca Teater di Indonesia Hari Ini, yang diselenggarakan Teater Garasi pada bulan Juli dan Desember 2003. Di hadiri oleh aktor dan sutradara dari Makassar, Palu, Medan, Riau, Lampung, Jakarta dan beberapa kota lain di Jawa. Peserta lokakarya adalah aktor dan sutradara kelompok-kelompok teater yang dari kota-kota tersebut, karena lokakarya ini adalah sekaligus juga semacam pemetaan atas metode-metode keaktoran dan penyutradaraan yang berkembang dalam teater kontemporer di Indonesia. Di dalam lokakarya ini di samping fasilitator memberikan materi-materi tertentu juga membuka sebuah forum berbagi atas metode-metode keaktoran dan penyutradaraan. Lokakarya ini diselenggarakan atas kerjasama Teater Garasi dengan Yayasan Kelola.
  • Lokakarya Performance Art: Related to Others , Pendopo Teater Garasi, 17 April 2003.
    Fasilitator: Anna and Willem Wilhelmus (perupa dan performance artist dari Finlandia). Diadakan di pendopo Teater Garasi. Diikuti oleh 24 peserta yang terdiri dari aktor Teater Garasi, Teater Gardanalla, seorang aktor dari Perancis, serta beberapa mahasiswa ISI Jurusan Teater dan Seni Rupa. Diselenggarakan bersama Jendela Budaya dan Benda Art Space.
  • Lokakarya 'Mitologi Sebagai Basis Penciptaan Teater',
    Taman Budaya Lampung (25 Maret 2003) dan Studio Teater STSI Padangpanjang (30 Maret dan 1 April 2003).
    Fasilitator: Yudi Ahmad Tajudin (Direktur Artistik Teater Garasi) dan 9 aktor dari Teater Garasi.
    Lokakarya ini adalah bagian dari perjalanan Teater Garasi di dua kota di Sumatra (Lampung dan Padang Panjang) di dalam program "Mencari Dialog", yang berisi pementasan teater, lokakarya dan diskusi. Di Padangpanjang, berbeda dengan di Lampung, peserta lokakarya lebih terkonsentrasi dan spesifik; mahasiswa Jurusan Teater STSI Padang Panjang. Dan di Padangpanjang lokakarya berkembang menjadi 2 kali karena permintaan dari peserta. Diselenggarakan bekerjasama dengan Teater Satu dan Taman Budaya Lampung serta STSI Padangpanjang.
  • Lokakarya 'Tari Topeng Indramayu', Studio Tari Banjar Mili, 26 November 2002.
    Fasilitator: Mimi Rasinah (penari topeng senior dari Indramayu Jawa Barat)
    Di samping diikuti oleh seluruh aktor Teater Garasi workshop ini juga diikuti oleh 6 penari dari Miroto and Dancers
  • Lokakarya 'Tonalitas Pesisiran' (Penyelenggara dan peserta), Pendopo Teater Garasi, 17 - 19 Januari 2002
    Fasilitator: Ki Slamet Gundono (Dalang Wayang Suket dari Surakarta), yang memberikan teknik-teknik vokal dan menyanyi seperti yang berkembang di seni-seni tradisi di daerah pesisir Jawa. Lokakarya ini adalah bagian dari proses panjang 'Waktu Batu' Teater Garasi.
  • Lokakarya Teater Boneka Anak Cakrawala (fasilitator), Yayasan Seni Cemeti, 2001.
  • Lokakarya Teater Tari Butoh (pengelola dan peserta), SMKI, 2001.
    Ini adalah kali ke-2 Teater Garasi bekerjasama dengan Bimo Dance Company dan Kohzensa Butoh Company menyelenggarakan lokakarya Butoh. Yang pertama pada tahun 1999. Kali ini lokakarya berlangsung 6 hari dengan peserta 20 dari Yogyakarta dan Surakarta. Lokakarya dilanjutkan dengan proses singkat selama dua minggu untuk mementaskan beberapa repertoar tari karya Yukio Waguri (penari dan koreografer Butoh).
  • Lokakarya Teater Anak Jalanan, Kaliurang, 2000
    Yayasan Humana dan beberapa LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan anak meminta Teater Garasi untuk memberikan lokakarya teater bagi anak-anak. Lokakarya berlangsung tiga hari diikuti oleh 5 kelompok anak dari anak-jalanan, anak kampung dan perkotaan. Workshop ditutup dengan sebuah pementasan bersama dengan tajuk 'Dunia yang Dikecilkan'.
  • Lokakarya Teater-Tari Butoh, Gedung Kesenian Societet Militer Yogyakarta, 1999.
    Lokakarya ini diorganisasikan oleh Teater Garasi dan Bimo Dance Company. Dengan fasilitator Yukio Waguri dari Kohsenza Butoh Company Jepang. Berlangsung satu hari dan dibagi dalam dua kategori, yakni lokakarya Butoh (movement theatre) untuk penari dan untuk teaterawan. Diikuti oleh 40 peserta dari berbagai kelompok tari dan teater di Yogyakarta.

Riset dan Diskusi

  • Riset Kondisi Mutakhir Teater SMU di Kodya Yogyakarta, Maret-Mei 2003
  • Riset Gandrung Bayuwangi dan Situs Gunung Penanggungan, Jawa Timur, 22 - 29 Januari 2002
  • Riset dan penulisan Teks-Untuk Pertunjukan Waktu Batu, Sepetember 2001 - Juni 2002
  • Penelitian Sejarah Teater Kontemporer di Yogyakarta 1950-1990 (bersama Kalangan Anak Zaman), 1999-2000.
  • Forum Membaca Teater di Indonesia Hari Ini I & II, Yogyakarta, Juli dan Desember 2003. Sebuah forum antar seniman teater yang dihadiri seniman teater dari Makassar, Palu, Medan, Lampung, Jakarta dan beberapa kota lain di Jawa.
  • Diskusi Dialog Lintas Kebudayaan Melalui Teater (Inter-Cultural Dialogue Via Teater); Kasus Waktu Batu, Taman Budaya Lampung, Sumatra, 27 Maret 2003
  • Diskusi Tradisi dan Identitas dalam Teater di Indonesia, STSI Padangpanjang, 31 Maret dan 1 April 2003.
  • Diskusi Realisme dalam Teater Indonesia; kasus Teater Gapit Surakarta, Pendopo Teater Garasi, 30 September 2002
  • Diskusi Proses Kreatif di Balik Novel 'Jendela-jendela, Pintu dan Atap' karya Fira Basuki, Pendopo Teater Garasi, 28 September 2002
  • Diskusi Interpretation and Field of Reference dalam Komunikasi Seni Pertunjukan, Karta Pustaka Yogyakarta, 15 Juli 2002.
  • Diskusi Mitologi sebagai Sumber Penciptaan Kreatif, Auditorium Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta, 22 Juni 2002
  • Diskusi Seniman Mencari Ruang, Universitas Kristen Duta Wacana, 18 Juni 2002
  • Diskusi Suara-suara Pinggiran dalam Sketsa 'Sketsa Negeri Terbakar', LIP, 2000
  • Diskusi Naskah Sri sebagai Wacana (teks) Sosial dan Gender, LIP, 1999
  • Diskusi Beckett, Endgame dan Absurditas di Indonesia, LIP, 1998